Haul Mbah Yai Khozin 2026

Nama Mbah Yai Khozin sudah lama dikenal di kalangan masyarakat sekitar sebagai ulama yang gigih memperjuangkan pendidikan Islam. Pesantren yang beliau dirikan menjadi tempat lahirnya banyak santri yang kemudian menyebarkan ilmu ke berbagai daerah.

Bagi para santri lama, sosok beliau bukan hanya seorang pengasuh pesantren, tetapi juga guru spiritual kehidupan. Kesederhanaannya sering diceritakan dari generasi ke generasi. Mbah Yai Khozin dikenal tidak pernah lelah mengajar, bahkan hingga larut malam, demi memastikan para santrinya memahami pelajaran yang diberikan.

Salah seorang alumni yang hadir dalam acara tersebut, KH Muslihan dari Tuban, mengaku selalu merasakan suasana berbeda setiap kali menghadiri haul sang guru.

“Haul ini seperti menghidupkan kembali kenangan masa mondok,” katanya. “Kami teringat bagaimana beliau mengajar dengan sabar, menasihati kami tentang adab, dan selalu mengingatkan bahwa ilmu harus membawa manfaat bagi masyarakat.”

Kenangan seperti itulah yang membuat para alumni tetap merasa terikat dengan pesantren, meskipun mereka kini telah tersebar di berbagai daerah.

Puncak Acara Bertempat di Masjid

Sejak sore hari, jamaah sudah mulai berdatangan. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula rombongan santri dari pesantren-pesantren sekitar. Mereka memenuhi halaman pesantren dan area masjid Subulul Huda.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan lantunan ayat suci alquran, pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin KH Suyuti Thoha. Lalu sambutan memakili keluarga oleh KH Izuddin yang sekaligus sebagai ketua Yayasan Pesantren Subulul Huda. kemudian pengajian umum yang disampaikan oleh KH Dawam. Di hadapan jamaah, beliau mengingatkan pentingnya meneladani perjuangan para ulama seperti Mbah Yai Khozin.

Menurutnya, ulama-ulama terdahulu membangun pesantren dengan kesederhanaan, keikhlasan, dan pengorbanan yang besar. Oleh karena itu, generasi sekarang harus mampu menjaga warisan tersebut.

“Haul ini bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk mengambil pelajaran,” tutur KH Dawam dalam ceramahnya. “Para kiai dahulu mengajarkan bahwa ilmu harus dibangun di atas adab. Jika adab hilang, maka ilmu akan kehilangan keberkahannya.”

Beliau juga mengingatkan bahwa keberadaan pesantren merupakan bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Pesantren telah melahirkan banyak ulama, guru, dan tokoh masyarakat yang berperan dalam membimbing umat.

“Kalau kita ingin menghormati para ulama, maka caranya bukan hanya dengan datang ke haul,” lanjutnya. “Tetapi dengan meneruskan perjuangan mereka—mengaji, mengajar, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.”

Acara di tutup dengan  doa oleh KH Ahmad Ghozali.