Udara pagi di halaman Pondok Pesantren Subulul Huda Persen terasa berbeda dari biasanya. Sejak matahari belum sepenuhnya meninggi, para santri, alumni, dan masyarakat sekitar sudah mulai berdatangan. Di antara mereka tampak wajah-wajah yang telah lama tidak saling bertemu. Ada yang datang dari desa tetangga, ada pula yang menempuh perjalanan jauh demi satu tujuan: menghadiri haul Almaghfurlah Mbah Yai Khizin.
Bagi keluarga besar pesantren, haul bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah ruang untuk mengenang, merawat ingatan, dan menyambung kembali ikatan batin antara santri, alumni, dan guru yang pernah membimbing mereka.

Di pelataran pesantren, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar mengalun lembut. Para santri duduk bersila, membaca tahlil dan doa bersama. Sementara itu, di sudut-sudut halaman, para alumni saling bersalaman, memeluk sahabat lama yang pernah berbagi cerita dan perjuangan saat mondok dulu.
“Rasanya seperti kembali ke masa santri,” ujar salah seorang alumni sambil tersenyum, mengenang hari-hari ketika mereka belajar mengaji hingga larut malam, menghafal kitab, dan menjalani kehidupan sederhana di pesantren.
Kembali ke Rumah Ilmu
Bagi banyak alumni, Pesantren Subulul Huda bukan sekadar tempat belajar agama. Pesantren adalah rumah kedua yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, bahkan arah hidup mereka.

Karena itulah, setiap kali haul Mbah Yai Khizin digelar, kerinduan untuk kembali selalu muncul. Di momen inilah mereka bisa kembali menyusuri lorong-lorong kenangan: tempat mengaji, kamar santri yang sederhana, hingga serambi tempat para kiai dahulu mengajar.
Di tengah keramaian itu, kisah-kisah lama kembali hidup. Ada yang bercerita tentang masa-masa belajar kitab kuning, ada pula yang mengenang nasihat-nasihat Mbah Yai Khizin yang sederhana namun membekas.
Momentum Silaturahmi Lintas Generasi Santri
Pertemuan alumni menjadi salah satu agenda yang paling dinanti dalam rangkaian haul tersebut. Alumni Pesantren Subulul Huda yang kini tersebar di berbagai wilayah hadir untuk kembali bersua dengan sesama teman seperjuangan semasa mondok.

Dalam sambutannya pengasuh pesantren Subulul Huda KH Agus Romli, Lc mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan jiwa militan para alumni yang ikut turut hadir memeriahkan acara haul ini. ” Kami mewaliki keluarga besar dari mbah yai Khozin ngaturaken matur nuwun engkang katah atas waktu dan kesempatan panjenengan hadir ditengah kesibukan panjenengan sedanten”.

Penasihat Pesantren Subuul Huda Ky Amien Thohari juga memberikan pandatang tentang karakter alumni yang nanti bakal berhasil salahsatunya adalah memiliki ikatan batin kuat antara alumni dan pesantren “Alumni yang bermanfaat adalah mereka yang tak melukapan pesantrennya”.
Setali itu Ketua Yayasan KH Izuddin juga mencurahkan tentang sulitnya merawat pesantren untuk bertahan dan berkembang ditengah persaingan pesantren yang kian banyak dan komplek. “Alhamdulilah pesantren sudah tahun kemarin berjalan menambah unit satu tingkatan pendidikan formal, tujuannya bukan lain karena ingin pesantren bisa hidup dan sehat”.

Sebagai informasi bahwa pertemua besar alumni nusantara di pesantren Subulul Huda Persen dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Sebagian alumni datang dari daerah sekitar, sementara yang lain rela menempuh perjalanan jauh demi menghadiri kegiatan tersebut. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya ikatan emosional antara alumni dengan pesantren yang telah menjadi tempat menimba ilmu dan membentuk karakter mereka.

Dalam suasana penuh keakraban, para alumni saling berbagi cerita tentang perjalanan hidup mereka setelah meninggalkan pesantren. Ada yang kini menjadi pengasuh madrasah, guru agama, dai di berbagai daerah, hingga tokoh masyarakat yang aktif dalam kegiatan sosial keagamaan.
Pertemuan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat jaringan alumni agar tetap terhubung dengan pesantren dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan lembaga pendidikan tersebut.

